Pemerintah Kabupaten Pasangkayu menggelar pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi
Pemerintah Kabupaten Pasangkayu menggelar pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi
Pemerintah Kabupaten Pasangkayu menggelar pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi, bertemakan “Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim AS Menuju Generasi Unggul Di Era Millenial”, di Lapangan Merdeka Pasangkayu. Rabu (27/05/2026).
Kegiatan ini dihadiri Bupati Pasangkayu, H. Yaumil Ambo Djiwa, S.H, Anggota DPR-RI Komisi IV Dr. Ir. H. Agus Ambo Djiwa, M.P. Anggota DPR-RI, Wakil Bupati Pasangkayu, Dr. Hj. Herny Agus, S.Sos.,M.Si, Unsur Forkopimda Kabupaten Pasangkayu, Pimpinan OPD lingkup Pemerintah Kabupaten Pasangkayu, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, serta Jamaah Sholat Idul Adha yang kurang lebih 1000 orang hadiri penuhi Lapangan Merdeka Pasangkayu.
Yang bertindak sebagai Imam Sholat Idul Adha 1447 Hijriah yaitu Ustadz Maulana Afgani Azis, Dr. Ng. Zainuddin Aziz, Dipl., M.Ag, sebagai Khatib Sholat Idul Adha, Ustadz Abdul Rajab sebagai Bilal pada Sholat Idul Adha 1447 Hijriah.
Dalam Khutbah Sholat Idul Adha oleh Dr. Ng. Zainuddin Aziz, Dipl.,M.Ag menyampaikan Penguatan Takwa Khatib mengajak seluruh jamaah untuk memperkuat takwa di dalam hati dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Takwa merupakan cahaya hati, pelindung diri, dan bekal abadi menuju surga Allah SWT.
Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim AS Idul Adha 1447 H menjadi momentum untuk mengenang keluarga kecil Nabi Ibrahim AS yang menjadi model keteguhan iman, keikhlasan, dan ketaatan kepada Allah SWT. Keteladanan keluarga ini sangat relevan dalam mendidik anak dan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Makna Idul Adha Idul Adha bukan sekadar penyembelihan hewan kurban, tetapi simbol pengorbanan dan ketaatan yang diwariskan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Nilai keimanan, keikhlasan, dan kepatuhan mereka tetap relevan hingga kini, terutama dalam mendidik generasi muda.
Ujian dan Keikhlasan Siti Hajar dan Nabi Ismail AS Khatib menguraikan kisah Siti Hajar yang ditinggalkan bersama bayi Ismail di lembah tandus Mekkah atas perintah Allah SWT. Dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, Siti Hajar menerima perintah tersebut. Usaha beliau mencari air diabadikan menjadi Sa’i dalam ibadah haji dan umrah.
Doa Nabi Ibrahim AS Dalam menjalankan perintah Allah, Nabi Ibrahim AS terus berdoa agar diberi pertolongan dan istiqamah. Doa tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 37:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya di sisi rumah-Mu yang dihormati...”
Keluarga sebagai Madrasah Pertama Kisah keluarga Nabi Ibrahim AS membuktikan bahwa keluarga adalah madrasah pertama dalam menanamkan nilai tauhid, kesabaran, dan keikhlasan. Hubungan orang tua dan anak harus dibangun atas dasar iman dan takwa. Dengan menjadikan keluarga Nabi Ibrahim sebagai teladan, diharapkan lahir generasi yang unggul dalam iman, akhlak, dan tangguh menghadapi tantangan zaman milenial.(*)
