A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: controllers/C_dashboard.php

Line Number: 652

Backtrace:

File: /home/pasangka/public_html/application/controllers/C_dashboard.php
Line: 652
Function: _error_handler

File: /home/pasangka/public_html/application/controllers/C_dashboard.php
Line: 25
Function: visitorAdd

File: /home/pasangka/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 2

Filename: controllers/C_dashboard.php

Line Number: 653

Backtrace:

File: /home/pasangka/public_html/application/controllers/C_dashboard.php
Line: 653
Function: _error_handler

File: /home/pasangka/public_html/application/controllers/C_dashboard.php
Line: 25
Function: visitorAdd

File: /home/pasangka/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Pasangkayu
  • Sunrise At: 05:30 WITA
  • Sunset At: 17:55 WITA
Sec Top Mockup 2 Sec Bottom Mockup

Pemkab Pasangkayu Menggelar Upacara Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang ke-33

Blog Detail Image 1
Pemkab Pasangkayu Menggelar Upacara Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang ke-33

Pemerintah Kabupaten Pasangkayu menggelar upacara peringatan Hari  Keluarga Nasional (Harganas) yang ke-33 tahun 2026. Di Halaman kantor Bupati Pasangkayu. (Senin,29/06/2026). 

Upacara ini dihadiri oleh kepala organisasi perangkat daerah (OPD) kabupaten pasangkayu, para kabag, serta ASN lingkup pemerintah kabupaten pasangkayu.

Selaku inspektur upacara, Asisten l, kabupaten pasangkayu, Dr. Badaruddin, S. Pd.,M.Si membacakan sambutan seragam Menteri kependudukan dan pembangunan keluarga/kepala BKKBN Republik Indonesia, Wihaji.

Dalam sambutannya ia menyampaikan Hari keluarga Nasional bukan sekedar baris tanggal di kalender tahunan yang kita peringati dengan berbagai seremonial, lebih dari itu, hari ini adalah momentum refleksi nasional, sebuah jeda kultural untuk kita semua menengok kembali ke dalam rumah kita masing-masing, memeriksa kembali pilah-pilar penyangga domestik kita, dan bertanya pada diri kita sendiri sudahkah keluarga kita menjadi tempat bernama yang aman, tangguh, dan siap melahirkan generasi pemenang. 

Kita berdiri di sebuah panggung peradaban modern yang bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia para ahli menyebut zaman ini sebagai era Vuca-sebuah lanskap global yang dicirikan oleh volatility (gejolak perubahan  yang begitu cepat). Uncertainty (ketidakpastian yang tinggi). Complexity (kerumitan masalah yang saling bertautan). Dan ambiguity (kebingungan arah). Di era Vuca ini, tantangan yang dihadapi oleh sebuah keluarga bukan lagi sekedar tantangan konvensional pemenuhan kebutuhan fisik semata. 

Hari ini, tantangan ekonomi makro, disrupsi teknologi digital yang radikal, pergeseran nilai-nilai sosial hingga ancaman siber, masuk secara langsung dan tanpa permisi ke ruang-ruang keluarga kita melalui gawai yang ada di genggaman anak-anak kita. Jika institusi keluarga kita rapuh, jika ketahanan domestik kita keropos, maka arus zaman yang serba tidak menentu ini akan dengan sangat mudah menggilas masa depan anak-anak kita memecah belah keharmonisan suami istri, dan menghancurkan tatanan moral generasi penerus. 

Oleh karena itu, saya tegaskan bahwa ketangguhan keluarga bukanlah sebuah pilihan alternatif yang bisa kita tunda-tunda, ketangguhan keluarga adalah sebuah keharusan mutlak, sebuah urgensi nasional yang tidak boleh ditawar lagi jika kita ingin bangsa ini tetap berdiri tegak di tengah badai perubahan global.

Dalam konteks pembangunan nasional, yang lebih besar, ketangguhan keluarga memiliki korelasi linear dan mutlak dengan masa depan geopolitik dan geo ekonomi Indonesia.

Saat ini bangsa kita sedang berada di sebuah jendela peluang historis yang sangat langka, yang disebut dengan bonus demografi. Ini adalah sebuah fase di mana struktur penduduk kita didominasi oleh usia produktif, yaitu mereka yang berusia antara 15 hingga 64 tahun, jumlah mereka jauh lebih besar dibandingkan dengan kelompok usia non produktif. 

Sejarah dunia mencatat bahwa fenomena bonus demografi ini hanya datang satu kali dalam sejarah sebuah bangsa, jendela peluang ini tidak akan terbuka selamanya. Ia memiliki batas waktu dan saat ini, kita sedang berada di puncak, fase krusial tersebut menuju impian besar kita Indonesia emas 2045. 

Namun, kita harus sadar dan waspada bonus demografi ini ibarat pisau bermata dua ia bisa menjadi berkah yang luar biasa, sebuah batu loncatan yang melesatkan Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama dunia. 

Namun, ia juga bisa berubah menjadi bencana demografi yang mengerikan jika kita gagal mengelolanya.

Bagaimana kita bisa memperbaiki kualitas SDM demi mengapitalisasi bonus demografi tersebut? Kuncinya ada pada tiga pilar utama pembangunan keluarga kesehatan, pendidikan karakter, dan ketahanan mental.

1. Kita harus memastikan bahwa anak-anak yang lahir di Indonesia adalah anak-anak yang sehat fisik dan cerdas secara kognitif. Kita harus menuntaskan perang kita terhadap stunting.

2. Penguatan pendidikan karakter dan keterampilan abad ke-21 keluarga adalah madrasah pertama, sekolah paling awal bagi setiap manusia, di sinilah nilai-nilai kejujuran, kerja keras, integritas, kedisiplinan, dan rasa cinta tanah air ditanamkan. 

3. Ketahanan mental dan spiritual di era Vuca yang penuh tekanan ini, gangguan kesehatan mental pada usia muda meningkat tajam. Tugas keluarga adalah menjadi pelabuhan emosional yang stabil. Tempat di mana anak-anak merasa dihargai, didengarkan, dan didukung sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang resilien, tidak mudah menyerah oleh tantangan zaman. 

Upaya perbaikan kualitas SDM dan penguatan karakter ini mustahil terwujud jika beban pengasuhan hanya diletakkan di atas pundak para Ibu sendirian.

Oleh karena itu, pada momentum Hari keluarga Nasional sangat berharga ini, Saya ingin mengetuk hati dan kesadaran para kepala keluarga di seluruh pelosok negeri. Saya ingin menyampaikan pesan yang sangat mendalam dan serius kepada para ayah di seluruh Indonesia. 

Ayah, peran anda di dalam rumah tangga bukan sekedar sebagai mesin pencari nafkah materi, tugas anda tidak selesai Ketika anda telah mengirimkan belanja atau membayar biaya sekolah, keterlibatan aktif kehadiran fisik, dan kedekatan emosional seorang ayah dalam proses pengasuhan anak adalah faktor determinan bagi pembentukan struktur kepribadian dan kestabilan emosi anak-anak kita.

Mari kita lihat realitas hari ini, musuh terbesar yang mengancam kehangatan di dalam rumah kita seringkali bukan oranglah asing, melainkan sebuah benda kecil berlayar kaca yang ada di dalam genggaman kita masing-masing. 

Saya berpesan dengan sangat tegas jangan sampai mindset, pola pikir, dan ruang imajinasi anak-anak kita dikuasai sepenuhnya oleh gadget atau gawai. 

Wahai para ayah, letakkan gawai Anda saat berada di rumah peluk anak-anakmu, ajak mereka berdialog, dengarkan keluh kesah mereka dan jadilah sahabat terbaik bagi mereka. 

Kelalaian kita dalam memberikan pengasuhan yang berkualitas, ketidakhadiran figur orang tua di rumah, serta pembiaran anak-anak dikuasai oleh gadget, memiliki dampak linier langsung terhadap munculnya patologi sosial di kalangan generasi muda kita. Kita tidak boleh menutup mata, kita tidak boleh abai terhadap angka statistik yang mengkhawatirkan, hari ini perilaku menyimpang remaja saat ini sudah berada pada tahap yang sangat mencemaskan. 

Ini adalah sinyal bahwa ada fungsi keluarga yang sedang malfungsi di dalam rumah kita, anak-anak yang melakukan kekerasan di luar, seringkali adalah anak-anak yang meniru kekerasan didalam rumah atau mereka yang kurang mendapatkan kasih sayang sehingga mencari perhatian dengan cara yang keliru.

Saya menghimbau kepada seluruh orang tua di Indonesia tangkal semua ancaman ini dari dalam rumah Kita sendiri, jangan tunggu sampai anak kita menjadi korban atau pelaku, baru kita menyesal, benteng pertahanan terbaik adalah ketahanan keluarga, hidupkan kembali fungsi keagamaan di rumah, ajarkan nilai-nilai Moral secara konsisten jadikan rumah kita sebagai tempat yang paling aman, paling nyaman dan paling dirindukan oleh anak-anak kita. 

Sehingga kemanapun Mereka pergi melangkah, magnet kehangatan keluarga akan selalu menarik mereka untuk pulang ke jalan yang benar. 

Sebagai penutup, Saya ingin mengajak kita semua untuk mengubah paradigma kita tentang keluarga. 

Keluarga bukanlah sekedar unit terkecil dalam masyarakat secara administratif, keluarga adalah hulu dari semua kebijakan publik, hulu dari semua kesuksesan pembangunan nasional.